Cerita Dibalik Usia Remaja (15 tahun) Kabupaten Minahasa Utara

KETURUNAN orang Minahasa  tentunya tidak lepas dari hadirnya seorang perempuan bernama Lumimuut.  Lepas dari berbagai konotasi tentang Lumimuut yang mempunyai anak laki-laki , Toar yang setelah dewasa jatuh cinta padanya.

Kita harus akui bahwa Legenda Toar dan Lumimuut adalah sumber asli (keasalan) orang Minahasa.

Toar – Lumimuut mempunyai 27 anak, satu diantaranya bernama Lingkanbene yang kemudian disebut Lingkanwene “maestro”(dewi syair/tari-tarian)

Disaat perjalanan Toar – Lumimuut ke Wenang (Pelabuhan Manado) untuk berbisnis (barter) Toar mengajak anak gadisnya yang bernama Lingkanbene yang berusia 17 tahun dan mempunyai paras yang sangat cantik.

Tak disangka Lingkan bertemu dengan pelaut Italia bernama “Aruns Crito”. Dalam pertemuan tersebut mereka memutuskan untuk berumah tangga.

Setelah kawin, mereka memilih membuka lahan pertanian di wilayah Kauditan dan Kema dengan pertimbangan “Aruns Crito” dapat mendekati laut Kema (pelabuhan) dan dapat berlayar dan istrinya membuka lahan pertanian.

Beberapa abad kemudian sesudah Aruns Crito dan Lingkanwene datang ditanah Tonsea para anak cucu keturunan Toar – lumimuut dari ke 26 saudara Lingkanwene sudah semakin banyak dan mereka menduduki wilayah bagian Danau Tondano dan dibagian selatan didaerah Wulurmaatus (Minsel). Seiring dengan waktu d keturunan mereka, secara berkelompok mereka mempunyai pemimpin masing-masing yang kemudian dikenal dengan Dotu.

Pada suatu hari para Dotu-dotu (datuk) atau dikenal dengan sebutan Opo-opo yang notabene masih merupakan satu garis keturunan menggelar pertemuan di Tonsea Lama—Kumelembuai—Kembuan (di saat Stevanus Vreeke Runtu menjabat Bupati Minahasa, ia memindahkan Tonsea Lama masuk wilayah Tondano).

Dalam pertemuan itu, tidak terjadi kata sepakat, sehingga Opo Wagiu, yang dikenal paling vocal langsung walk-out dan turun berjalan ke bawah menyusuri lereng (kemudian dikenal dengan Desa Tanggari) diikuti oleh teman-temannya laki-laki dan perempuan.

Saat Opo Wagiu bersama rekannya tiba di suatu tempat yang mereka rasa baik dan aman untuk dijadikan pemukiman, mereka tinggal di situ, dan menamai tempat tersebut Kumelembuai (Airmadidi), dan itulah sebabnya orang Airmadidi di sebut Tou Kumelembuai.

Singkat cerita, Airmadidi berkembang begitu pesat. Keturunan Opo Wagiu dan pengikutnya ini terus bertambah banyak dan mereka kawin mawin dengan keturunan Aruns Crito dan Lingkanwene hingga bangsa Portugis masuk dikema dan kemudian Belanda menginjakkan kakinya di Tanah Tonsea.

Pada Zaman kolonial Belanda tahun 1811, Negeri Tonsea masuk dalam kewedanan Distrik Tonsea, yang dipimpin Hoekum Besar, Oxford Palengkahu.

Di masa Palengkahu memerintah, Kota Bitung, Kema, Wori, Lantung, Serei dan Makalisung merupakan Under Districk (kecamatan) Kauditan. Sedangkan Sukur, Suwaan, Kolongan, Maumbi, Kairagi dan Tikala masuk Under Districk Airmadidi.

Sementara di bagian utara, terdapat Likupang dan pulau-pulau sekitarnya yang masuk Districk Tatelu (sekarang Kecamatan Dimembe).

Ratusan tahun kemudian, generasi Negeri Tonsea diantaranya Moses Sumampouw (alm) dari desa Laikit, Rondonuwu dari Likupang Ronald Awuy dibantu Rudy Umboh, Herry Tombeng, Sel Reppi (alm), Elda Mumbunan (alm) dan beberapa orang lainnya, mendeklarasikan Badan Pembentukan Kabupaten Minahasa Utara (BPKMU), yang mencetuskan ide agar Negeri Tonsea menjadi daerah otonom terpisah dari Kabupaten Minahasa.

Gayung bersambut, Undang-undang Republik Indonesia No.33 tanggal 18 Desember 2003 tentang pembentukan Kabupaten Minahasa Utara di Propinsi Sulawesi Utara dan diresmikan Mendagri atas nama Presiden RI pada tanggal 07 Januari 2004.

Selanjutnya, Paul Tirayoh ditunjuk sebagai penjabat bupati, dan di tahun 2005, Vonny Anneke Panambunan dan Sompie Singal di pilih oleh rakyat lewat Pilkada menjadi bupati dan wakil bupati pertama, dan karena ada satu dan lain hal, pemerintahan dilanjutkan oleh Sompie Singal.

Kemudian, pada Pilkada tahun 2010, Sompie Singal bersama Yulisa Baramuli dipilih oleh rakyat menjadi bupati dan wakil bupati periode 2010-2015, dan pada Pilkada 2015, mantan bupati Vonnie Anneke Panambunan kembali terpilih menjadi bupati didampingi Jopi Lengkong sebagai wakil bupati untuk masa bakti 2015-2020.

Kini Kabupaten Minahasa Utara sudah berumur 15 tahun ibarat gadis remaja yang  siap menjadi gadis dewasa yang cantik, berwibawa dan pintar.

Untuk itu para pemimpin Kabupaten Minahasa Utara dituntut untuk dapat menjaga Tanah Tonsea dari pengrusakan lingkungan, situs-situs budaya, moral dan agama, pendidikan dan korupsi karena korupsi merupakan kejahatan yang membunuh generasi.

Mari kita sama-sama menjaga kelestarian Tanah Tonsea dan menghormati sesuai amanah yang dititipkan leluhur.

SELAMAT HARI JADI KABUPATEN MINAHASA UTARA KE-15

“PAKATUAN WO PAKALAWIREN”

Penulis : Efraim Lengkong

(Pemerhati sejarah dan budaya)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *