Menakar Kekuatan Paslon Walikota Bitung

Lepas dari bermacam macam pendapat tentang asal usul kota Bitung, haruslah kita akui bersama, bahwa asal pemilikan tanah dikota Bitung sebelum diperjualbelikan, dimiliki oleh keturunan 6 rumpun keluarga yaitu :
1. Lengkong
2.Sompotan
3.Wullur
4.Siby
5.Rotty
6.Ganda.
Dari anak cucu mereka ini kemudian dikenal dengan sebutan “Ahli waris 6 dotu”.

Atas kepiawaian Mayjen HV Worang (alm) yang notabene merupakan keturunan Lengkong mengubah status wilayah Bitung menjadi Kota administratif pertama di Indonesia. Dan dibulan juli 1974 Gubernur Provinsi Sulawesi Utara menunjuk dan melantik Wempi A Worang yang merupakan saudara kandungnya menjadi Walikota Administratif Bitung pertama.

Pada tanggal 10 oktober 1990 Kota Administratif Bitung meningkat statusnya menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bitung berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1990, sekaligus menunjuk Drs. S.H. Sarundayang sebagai Walikota pertama, menyusul Milton Kansil menjadi walikota pilihan DPRD dan Hanny Sondakh menjadi walikota pilihan rakyat pertama disusul oleh Max Lomban.

Timbul pertanyaan siapa nantinya figur kedepan yang akan memimpin Kota “multy dimensi” ini ?

Sejak sang birokrat petahana Max Lomban (MJL) memilih “newcomers” Daniel Tumbelaka (MJL-MDT) berpasangan dengannya, tak dapat dipungkiri ada kekuatan besar dibelakang MJL – MDT.

Secara kasat mata terlihat bahwa ada pasukan pendukung ASN berdiri tegak dibelakang sang incumbent, dan ada kekuatan financial dibalik “New arrival”, serta Konon pendampingnya adalah “promotor tinju” yang berkocek “infinite” atau “unlimited”.

Disamping harga jual sang petahana yang sudah berperan dalam membangun kota termasuk kepedulian dalam memberi rasa aman termasuk “membirukan” wajah kota Bitung, nuansa sejuk yang tercipta di kota majemuk ini tidak lepas dari “Cold hands” dari sang pemimpin.

Tak terbantahkan munculnya MM-HK sebagai kandidat membuat lawan politik dan pendukung harus berpikir 7 kali mengapa tidak MM yang notabene merupakan wakil walikota diketahui mempunyai masa pendukung “militan” yang sering berkomen (fb) “maju banteng”.

MM juga merupakan pendulang suara terbesar di beberapa kelurahan yang merupakan basis keluarga keturunan 6 dotu dan diketahui istri dari MM adalah keturunan dotu Sompotan, hal ini dibukti saat pencalonan walikota dan wakil yang lalu “peran suara keluarga besarlah” yang telah menghantar “MJL-MM” kesinggasana.

Hadirnya Victorine Lengkong dan Gunawan Pontoh sebagai salah satu calon walikota dan wakil walikota Bitung ibarat kedatangan “beautiful mermaid” lagenda putri duyung cantik dalam melindungi biota laut dari pengrusakan predator.

Kehadiran Orin sapaan akrabnya berpasangan dengan Gunawan jelas merubah konstelasi politik di Bitung. Pendukung yang sebelumnya ada dikubu sang pendulang suara keluarga dapat dipastikan menui paceklik.

Pasalnya, munculnya beautiful mermaid adalah cucu dari kel Lengkong – Wullur (Nunet & keke) mantan Lurah Bitung Timur sampai diera Sarundajang dan Orin adalah anak dari mantan Lurah Aertembaga Loli Lengkong dan ibu Margaretha Budiman dari Nusa Utara.

Kemampuan SDM untuk memimpin tidak diragukan lagi diumur 22 thn Orin sudah menakhodai kelurahan Pateten dan terakhir menjabat sebagai Kepala dinas Pariwisata bitung. Selama 22 tahun berkiprah sebagai ASN dilingkup pemerintahan kota Bitung membuat dirinya menguasai keperluan dan apa yang dibutuhkan masyakat Bitung.

Dengan mengaet pasangan Gunawan dari umat muslim menggambarkan sifat Nasionalis, dan hetorgen dari Orin dalam menciptakan iklim yang kondusif dalam pembangunan termasuk didalamnya tercipta budaya toleransi  antara umat beragama dikota Bitung semakin mantap.

Victorine Lengkong dalam konferensi persnya mengatakan bahwa dirinya dan Wakilnya sudah sangat siap bertarung dan memenangkan Pilkada Bitung pada 9 Desember 2020 nanti.

“Dijelaskannya bahwa dirinya kembali diKota Bitung untuk maju sebagai calon wali kota bukan tanpa alasan dan bukan kebetulan.

Awalnya berhenti dari ASN dan pindah berdomisili di Jakarta, dirinya tidak menyangka akan kembali ke Kota Bitung sebagai salah satu Paslon untuk bertarung memperebutkan orang nomor satu di Kota Cakalang.

Mungkin ini takdir saya untuk kembali berkarya ditanah leluhur dimana saya lahir dan dibesarkan.

Hampir 3 tahun saya pindah domisili di Jakarta “namun saya lahir dan besar di Kota Bitung kurang lebih 40 tahun di Bitung dan mengabdi sebagai birokrat merupakan waktu yang panjang. Jadi saya rasa waktu tiga tahun berkiprah di jakarta tidak mampu menghapus semua kecintaan saya berkiprah di Bitung” tuturnya

Tak disangka dengan mundurnya saya dari birokrat ternyata menjadi salah satu persyaratan untuk menjadi Paslon.
Dan ini saya syukuri karena mungkin ini jalan tuhan untuk saya kembali mengabdi di Kota Bitung,” tutur Orin penuh yakin.

(efraim maramis lengkong “pemerhati sejarah dan budaya”)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *