Sejarah Kota Bitung Dan “Warisan 6 Dotu”

“Six (6) Dotu Legacy and Bitung City History”

by: Efraim Lengkong

Berbicara tentang kota Bitung, mengingatkan kita pada kota kuno Niniwe yang terletak di sebelah timur, timur laut kota Mosul Provinsi Ninawa Irak. Disanalah Tuhan Allah pernah mengutus Nabi Yunus. (kitab Yunus 1 – 2). “Yunus dipanggil oleh Tuhan untuk pergi ke kota Niniwe.

Nama Kota Bitung konon diambil dari nama pohon bitung yang pada saat itu banyak bertumbuh dipesisir pantai yang saat ini disebut “candi dan depo Pertamina” sampai dipasar tua dan pohon-pohon tersebut menjadi tempat istirahat para nelayan dari teriknya matahari.

Dizaman Hindia Belanda pemerintah mengeluarkan ketetapan tentang tanah-tanah yang dikuasai langsung oleh pemerintah Hindia Belanda dan ada juga tanah-tanah yang dikuasai oleh districk (wijk). Diabad 18, dipesisir pantai kota Bitung sudah ada orang yang secara berkelompok mulai merombak hutan untuk dijadikan lahan perkebunan, jumlah mereka tidak banyak dan kebanyakan dari mereka merupakan nelayan yang datang dari “Nusa utara”. Awalnya komunitas mereka dalam interaksi “sosialnya” hidup rukun dan damai.

Akan tetapi seiring dengan perkembangan lokal masyarakat tradisional pada diberbagai dimensi sosial yang timbul dari adanya “imperialisme barat”, maka penduduk  pribumi yang mengelola hasil bumi dari areal perkebunan mulai mendapat gangguan dan ancaman bahkan serangan dari orang-orang Mindanou (Filipina). Pada waktu itu penduduk pribumi mengkonotasikan mereka dengan konotasi negatif yaitu sebutan “bajak laut” atau perompak, saat ini populer dengan sebutan “Jack Sparrow” (Pirates of the Caribbean).

Sekitar tahun 1884 pemerintah Hindia Belanda melalui kepala districk Tonsea Major Oxfford Palengkahu mengambil langkah dalam pengamanan wilayah tersebut dengan meminta bantuan dari para “pendekar” dari Kampoeng Tandjoeng Merah (“tou tana rundang”). Mereka itu adalah : Jusop Lengkong, Hermanus Sompotan, Elias Wullur, Jusop Siby, Habel Ganda dan seorang perempuan yang bernama Magdalena Rotti untuk menjaga dan mengamankan wilayah dari gangguan perompak laut.

Ke 6 (enam) orang tersebut dikemudian hari disebut 6 dotu (6 orang kramat).
Dalam menjalankan tugas, menjaga dan mengamankan wilayah pesisir pantai Bitung, mereka bersama sama dengan orang – orang yang sudah ada (orang orang yang  datang dari Sanger -Talaud sebagai nelayan maupun pekerja tani di areal tersebut), bersama sama membantu bahu-membahu merombak hutan untuk dijadikan lahan pertanian.
Tanah – tanah yang diduduki mereka dalam arti yang dijadikan areal perkebunan dengan sendirinya menjadi milik mereka bersama, termasuk orang orang yang sudah ada sebelumnya.

Pada waktu itu areal penjagaan/pendudukan dari ke 6 dotu, mulai dari Madidir sampai Aertembaga terus ketimur. Pada waktu itu wilayah penjagaan dan pendudukan dibagi 3 (tiga) bagian wilayah yaitu :
a. Wilayah penjagaan yang diduduki oleh Dotu Jusop Lengkong dan dotu Elias Wullur adalah dibilangan pusat kota Bitung saat ini sampai dimana yang saat ini disebut “Parigi Dolong”.
b. Wilayah penjagaan/pendudukan Dotu Habel Ganda dan Jusop Siby yaitu ” mulai dari sebagian Apelah (Pateten) sampai dibatas Aertembaga.
c. Wilayah penjagaan/pendudukan  yang diduduki oleh Dotu Hermanus Sompotan dan Dotu Magdalena Rotti yaitu wilayah Aertembaga dan sekitarnya.

Diera “Rotinsulu menjabat sebagai kepala pemerintahan districk Tonsea (1911) pemerintah districk pernah berusaha keras untuk menjadikan “dua lokasi” dibitung untuk dijadikan areal perkebunan besar (erfpacht) yakni erfpacht untuk atas nama “Tan Tjin Bie” dan Erfpacht Pateten. Kedua erfpacht tersebut mendapat tantangan dan perlawanan dari masyarakat pribumi dan orang orang yang sudah terlebih dulu datang bertani dan menduduki tempat tersebut. Hal ini berakhir disaat ” Rotinsulu digantikan oleh “E.H.W. Palengkahu sebagai kepala districk Tonsea yang juga turut bersama – sama menentang mati matian sehinga erfpacht yang dimaksud tidak terwujud, walaupun warga Tionghoa tersebut sudah mengantongi “Beslit”/SK dari Pemerintah Hindia Belanda.

Kota Bitung dulunya merupakan wilayah  pemerintahan Districk Tonsea yang pusat pemerintahannya di Airmadidi. Juga diketahui bahwa Bitung masuk dalam pemerintahan Negeri (desa)Tandjung Merah under districk (kecamatan) Kauditan.
Seiring waktu wilayah Bitung semakin maju terjadi urbanisasi masyarakat transaksional dari berbagai wilayah berdatangan di kota Bitung.
Pelabuhan yang sebelumnya terbuat dari kayu, oleh Ir.TH Cool diganti dan dibangun konstruksi beton.

Kemajuan teknologi pendidikan semakin tinggi tuntutan sosial ekonomi makin mendesak membuahkan “degradasi moral dan budaya malu”.
Hal ini memicu pertikaian hukum “Klaim sana sini dari para ahli warispun terjadi, hal ini diakibatkan dari adanya oknum – oknum ahli waris yang egois dan tamak ditambah adanya oknum pejabat yang berusaha memanfaatkan gemerlapnya kelap kelip lampu di Kota Bitung.

Pada tahun 1961 PM Tangkudung yang akrab disapa “papa nolla” mempersatukan para keturunan 6 dotu dan mendoulat dirinya sebagai ketua 6 dotu dan ditahun yang sama tepatnya tanggal 13 september PM Tangkudung membuat Peta seluas kurang lebih 600 ha dan disahlan oleh 4 Hukum Tua (lurah) yaitu Aertembaga/Pateten/Bitung Tengah dan Bitung Timur hal ini yang menjadi dasar dari para ahli waris untuk mendapatkan kembali hak ulayat mereka.

10 april 1975 Bitung menjadi kota Administratif dibawah Kabupaten Minahasa dengan Walikota Wempie A Worang dan kemudian diganti oleh SH Sarundajang 1986 – 1990.  Pada 15 agustus 1990 Bitung berubah Status menjadi Kota Bitung yang definitif dengan Walikotanya Is LA Gobel april s/d Agustus.

Dan diera reformasi  Milton Kansil menjadi Walikota pilihan DPRD Bitung 2000 – 2005.
Max Lumintang Pjs Walikota 2005 – 2006  dan kemudian Hanny Sondakh menjadi Walikota pertama pilihan rakyat 2006 – 2016 (2 priode).
2016 Max Jonad Lomban terpilih menjadi Walikota  (petahana).

Fenomena yang terjadi dalam rentang waktu 30 tahun kota Bitung ibarat gadis yang sangat dewasa dalam memilih gaun untuk dipakai “pas atau tidak” cocok atau nggak”. Keberadaan Bitung yang penuh dengan tawaran tawaran dunia yang menggoda “seperti ilegal fishing – ilegal BBM Solar yang masih terjadi diperairan Bitung, mafia tanah, mafia hukum, trafficing” dan lain sebagainya tentunya mengigatkan kita pada Kota kuno “Niniwe” yang membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki suara kenabian yang berani berseru “tentang pertobatan dan tidak memilih ras, suku, agama dan warna partai agar supaya kota Bitung lebih diberkati dan dijauhkan dari ” Murka Tuhan”.

Penulis adalah generasi ke 5 Dotu Josop Lengkong




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *