Manusia di Era Kekinian

Firman Tuhan: “Tanah inilah kamu harus bagi-bagi di antara kamu menurut suku-suku Israel” 

Ketika umat Israel masuk ke tanah perjanjian (Kanaan), Allah mengatur dengan adil dalam hikmat-Nya “pembagian wilayah (tanah) bagi seluruh keturunan Yakub sesuai suku-sukunya dan orang-orang asing di antaranya pembagian tanah (wilayah) bagi masing-masing suku Israel itu dimaksudkan agar mereka memiliki kehidupan turun temurun dan tidak bermasalah dengan tanah warisan Allah bagi umat kepunyaanNya.
Yeheskiel 47 : 21- 48 : 35

Tuhan menciptakan tanah untuk maksud yang sangat mulia. Jadi tanah adalah anugerah Tuhan yang luar biasa bagi manusia. Sayangnya tanah sering menjadi pangkal masalah bagi manusia atau di antara manusia.

Diera kekinian, kebutuhan akan tanah semakin meningkat baik untuk tempat tinggal (rumah) maupun untuk kehidupan dan kebutuhan sekunder lainnya seperti lahan pekuburan yang semakin sempit akibat korban pandemi covid 19.

Fenomena yang terjadi diwilayah nyiur melambai dengan pertumbuhan pembangunan termasuk pembangunan jalan tol Manado – Bitung dan waduk Kuwil di minahasa utara, tambang mas (MSM) membuat anak keturunan Adam dan Hawa menjadi lupa diri. Timbul perselisihan “saling mengklaim semua berhak dengan alasan yang tidak jelas.

Dalam pantauan penulis ditahun 2020 telah terjadi banyak perselisihan tanah. Sebut saja kasus “ganti untung” jalan tol disebutan “padang pasir” Kota Bitung yang sampai saat ini belum selesai.

Begitu juga kasus ganti untung waduk di Desa Kawangkoan Kuwil dimana orang yang memiliki alas hak Sertifikat tidak menerima uang ganti rugi, anehnya, oknum mantan hukum tua yang menerima uang tersebut dengan dalih tanah tersebut sudah dihibahkan kedesa oleh orang yang sama dengan yang menjual tanah tersebut kepada orang yang saat ini sudah memiliki Sertifikat sejak tahun 1990.

Lain lagi yang terjadi di Desa Kokole Likupang pembebasan lahan oleh perusahan tambang mas (MSM) seluas 120 ha dijual dan dibeli secara sepihak, dimana ibu janda Lely Waworuntu saat ditemui mengisahkan bahwa tanah tersebut diperoleh dari hasil pendapatan dirinya dan suami (alm) disaat perkawinan, almarhum suaminya sudah memiliki tiga orang anak dan dalam perkawinan mereka dianugrahi satu orang anak

“Masa koman cuma kita pe anak tiri yang jual kong bisa keluar akta jual beli AJB padahal sebelumnya baik Hukum tua, Camat dan pembeli tau bahwa tanah tersebut milik saya,” sesal ibu Lely.
(efraim lengkong)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *